Jumat, 15 September 2017
Masakan khas Batak : Lapet
Selasa, 10 Januari 2017
Memaknai Hidup
Kamis, 03 September 2015
Rumah Adat Suku Bangsa Batak
Suku bangsa Batak memiliki rumah adat. Rumah (jabu) Adat suku bangsa Batak Toba disebut Ruma Bolon atau disebut juga Ruma Gorga atau Jabu Si Baganding Tua. Biasanya Rumah terdiri atas Ruma dan juga sopo (lumbung padi) yang berada di depan rumah.Ruma dan sopo ini dipisahkan oleh halaman yang luas yang berfungsi sebagai ruang bersama warga huta (kampung). Ada dua jenis Rumah adat bangsa Batak terutama dilihat dari hiasan yang diberikan. Rumah yang dibuat dengan banyak ukiran atau hiasan atau gorga, disebut Ruma Gorga Sarimunggu atau Jabu Batara Guru. Sedangkan rumah adat yang tidak berukir, disebut Jabu Ereng atau Jabu Batara Siang. Rumah berukuran besar, disebut Ruma Bolon dan rumah yang berukuran kecil, disebut Jabu Parbale-balean.Warna-warna yang dipilih untuk membuat gorga adalah merah,hitam dan putih,yang maksudnya adalah warna dari alam. Rumah adat bagi orang Batak dibangun bukan hanya sekedar tempat berlindung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup. Banyak pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisional Batak. Sebagai contoh, dalam rumah adat yang tidak bersekat atau tidak ada bilik atau kamar-kamar seperti rumah modern menggambarkan kesatuan dan kebersamaan. Demikian pula dengan pola penataan desa atau lumban/ huta (kampung) terdiri dari beberapa ruma dan sopo.Penempatan ruma dan sopo dibuat saling berhadapan dan mengacu pada poros utara selatan.Sopo merupakan lumbung, sebagi tempat penyimpanan makanan. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa masyarakat Batak selalu menghargai kehidupan, karena padi merupakan sumber kehidupan bagi mereka. Penafsiran Pola penataan lumban yang terlindungi dengan pagar yang kokoh, dengan dua gerbang (harbangan) yang mengarah utara-selatan, menunjukkan bahwa masyarakat Batak,memiliki persaingan dalam kehidupan kesehariannya. Dalam mendirikan sebuah bangunan terutama rumah adat tidak boleh asal atau sembarangan. Ada beberapa ketentuan adat yang harus dilaksanakan sebelum mendirikan bangunan rumah adat Batak. Berikut adalah adat-adat yang biasa diadakan: sebelum membangun diadakan upacara mangunsong bunti, yaitu upacara memohon kepada Tri-tunggal Dewa (Mula Jadi Nabolon,Silaon Nabolon, dan Mengalabulan). Peserta upacara meliputi Datu Ari (dukun),Raja Parhata (ahli hukum adat), Raja Huta (kepala desa) dan Dalihan Natolu(raja ni hula-hula, dongan tubu dan boru). Waktu mendirikan bangunan rumah adat diadakan upacara paraik tiang dan paraik urur (memasang tiang dan urur). Terakhir, setelah bangunan selesai diadakan 2 upacara, yakni: mangompoi jabu (memasuki rumah baru) dan mamestahon jabu (pesta perhelatan rumah baru). Sumber: dari berbagai sumber.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Sebutan Tutur Sapa Masyarakat Batak
Banyak orang batak terutama dijaman sekarang, tidak lagi mengetahui martutur (bertutur sapa)atau partuturon kepada orang Batak lainnya. Akibatnya, bisa-bisa dibilang tidak tahu adat atau tidak tahu hukum. Untuk itu orang Batak ada nama panggilan tutur sapa untuk berkomunikasi. Banyak sebutan tutur sapa masyarakat Batak. Berdasar tutur sapa ini pula masyarakat Batak dapat mengetahui posisi kekerabatanya. Kesalahan dalam sapaan ini bagi masyarakat Batak yang memahami adat dapat mengakibatkan ketersinggungan dan komunikasi yang tidak baik kepada lawan bicara. Partuturon atau kekerabatan pada masyarakat batak tidak sekedar untuk keperluan komunikasi saja, lebih dari itu dengan mengetahui kekerabatan ini orang batak jadi tahu posisi atau peran apa orang tersebut dalam suatu acara khususnya terkait pesta adat.Oleh sebab itu masyarakat Batak wajib memahaminya.Jadi sebagai orang batak khususnya, sebaiknya anda tahu! Berikut ini adalah sebutan atau tutur sapa masyarakat Batak: Ahu = sebutan untuk aku, saya Anak = sebutan untuk anak laki-laki Amang=damang=damang parsinuan =ayah, bapak. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki. Amanta >amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan. Amanguda, adik laki-laki dari ayah kita. Amanguda, sebutan untuk suami dari adik ibu kita. Amangtua, sebutan untuk abang dari ayah kita. Amangtua, suami dari kakak ibu kita sendiri. Amanguda/amangtua, suami dari pariban ayah kita. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin. Angkang boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita. Anggi, adik kita (laki-laki), adik (perempuan) boru tulang kita. Anggi doli, suami dari anggiboru. Adik (laki-laki) sudah kawin. Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki. Amangboru, suami kakak atau adik perempuan ayah kita. Amangtua/inangtua mangulaki, ompung ayah kita. Ama Naposo, anak (laki-laki) abang/adik dari hula-hula kita. Angkangboru mangulaki, namboru ayah dari seorang perempuan. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi. Aleale, teman akrab, bisa saja berbeda marga. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri). Bere, semua anak (laki + perempuan) dari kakak atau adik prp kita. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru. Boru, anak kandung kita (perempuan) bersama suaminya. Borutubu, semua menantu (laki) / isteri dari satu ompung. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah. Bonatulang, sebutan tutur sapa untuk paman dari ayah kita. Bona niari, sebutan tutur sapa tulang dari kakek kita. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita. Damang = ayah = bapak Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal). Dongantubu, abang adik, serupa marga. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan. Eda, sapa awal antara sesama wanita. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita. Hela, sebutan untuk menantu (lk) kita sendiri. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita. Hami=kami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri. Hamu=kalian, sebutan atas pihak lawan bicara. Hita=kita, menunjuk kelompok kita sendiri. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga. Ito, tutur sapa awal dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru. Iba, = ahu, saya. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita. Inang(simatua)=ibu mertua. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (laki-laki). Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (laki-laki) Lae, anak laki-laki dari namboru kita (laki-laki) Maen, anak-gadis dari hula-hula kita. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum. Nantulang, sebutan tutur sapa untuk isteri dari tulang kita. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka. Nasida, halak-nasida, amat dihormati karena berpantangan. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i. Nini, sebutan untuk anak dari cucu laki-laki. Nono, sebutan untuk anak dari cucu perempuan kita. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita. Ompungboru, sebutan ibu dari ayah kita. Pahompu, cucu. anak - anak dari semua anak kita. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara. Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita. Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (laki-laki) kita. Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita. Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik. Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita. Pariban, anak prp yang sudah kawin, dari pariban mertua prp. Parumaen = mantu prp. isteri anak kita. Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua. Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot). Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu. Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp. Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik laki-laki. Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua. Tulang, abang atau adik dari ibu kita. Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki. Tulang naposo = paraman yang sudah kawin. Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki. Tulang/nantulang mangulahi, panggilan cucu kepada mertua. Tunggane, semua abang dan adik (laki-laki) dari isteri kita. Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita. Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami, = isteri. Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta. Tuan doli = suami. Tuan boru = isteri. Pariban Mangulahi = Bere Naimarata, oppung borunya dari pihak BAPAK adalah salah satu marga2 di Naimarata. Pariban Malango = Bere Naimarata, oppung borunya dari pihak IBU adalah salah satu marga2 di Naimarata. Sumber: http://betahita.blogspot.com https://id.wikipedia.org Berbagai sumber
Jumat, 28 Agustus 2015
Asal-usul Danau Toba (Ilmiah)
Danau Toba sejak lama telah menjadi daerah tujuan wisata utama di Sumatera Utara selain Bukit Lawang, Berastagi dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sejarah Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Diperkirakan Danau Toba terbentuk saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa jumlah total material pada letusan sekitar 2.800 km3 - sekitar 2.000 km3 dari Ignimbrit yang mengalir di atas tanah, dan sekitar 800 km3 yang jatuh sebagai abu terutama ke barat. Aliran piroklastik dari letusan menghancurkan area seluas 20.000 km2, dengan deposito abu setebal 600 m dengan kawah utama. Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Danau Toba dengan Pulau Samosir di bagian tengahnya. Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya. Selama tujuh tahun, para ahli dari universitas Oxford tersebut meneliti proyek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba. Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Sumber: https://id.wikipedia.org
Kamis, 27 Agustus 2015
Aksara Batak Toba
Suku Batak memiliki aksara yang bernama Surat Batak. Aksara ini digunakan untuk menulis bahasa Batak. Surat Batak masih berkerabat dengan aksara Nusantara lainnya. Aksara Batak ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian surat Batak di Sumatra Utara yaitu Karo, Toba, Dairi, Simalungun, dan Mandailing. Namun, varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi. Sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun. Aksara Karo menunjukkan pengaruh, baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. Aksara Batak ini wajib diketahui oleh para datu, yaitu orang yang dihormati oleh masyarakat Batak karena menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Jenis aksara Batak merupakan bagian dari rumpun tulisan Brahmi (India). Sebagian besar sistem tulisan yang ada di Afrika, Eropa, dan Asia berasal dari satu sumber, yakni aksara Semit Kuno yang menjadi nenek moyang tulisan-tulisan Asia (Arab, Ibrani dan India) maupun Eropa (Latin, Yunani dan lainnya). Aksara Batak termasuk keluarga tulisan India. Aksara India yang tertua adalah aksara Brahmi yang menurunkan dua kelompok tulisan yakni India Utara dan India Selatan. Aksara Nagari dan Palawa masing-masing berasal dari kelompok utara dan selatan dan kedua-duanya pernah dipakai di berbagai tempat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Semua tulisan asli Indonesia berinduk pada aksara Palawa karena yang paling berpengaruh adalah aksara Palawa. Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut abugida, yaitu perpaduan antara silabogram dan abjad. Surat Batak merupakan sebuah perpaduan antara alfabet dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah. Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu. Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. Surat Batak zaman dahulu digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan pustaha atau pustaka. Pustaha- pustaha ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum. Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ina ni surat dan anak ni surat. Ina ni surat merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo. Sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabat Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya. Adapun anak ni surat dalam aksara Batak adalah komponen fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berupa tanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari: • Bunyi [e] (hatadingan) • Bunyi [ŋ] (paminggil) • Bunyi [u] (haborotan) • Bunyi [i] (hauluan) • Bunyi [o] (sihora) • Pangolat (tanda untuk menghilangkan bunyi [a] pada ina ni surat) Nama-nama tanda diakritis di atas hanya berlaku untuk bahasa Batak Toba. Dalam bahasa-bahasa Batak lainnya terdapat sejumlah variasi nama ina ni surat. Misalnya Pangolet dalam bahasa Karo dinamakan (penengen). Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam aksara Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga memiliki varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah lainnya yang menggunakan aksara yang sama. Sumber: batakcom.tumblr parhobas.wordpress.com kebudayaanindonesia.net
Rabu, 26 Agustus 2015
Umpasa, Umpama dan Falsafah Batak Toba
Umpasa batak toba ini adalah karya sastra dalam bentuk syair/puisi yang berisi pernyataan restu, nasehat dan doa bagi orang yang mendengarnya. Umpasa adat batak toba diperdengarkan dalam upacara adat dan ditujukan kepada muda-mudi, pasangan pengantin, upacara menyambut tamu atau berbagai acara lainnya, serta Kadang kala umpasa ini juga diperdengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Umpama dan umpasa merupakan suatu hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan orang Batak, terutama dalam kegiatan adat. Umpama dalam bahasa Indonesia berarti perumpamaan dan untuk umpasa berarti peribahasa. Penggunaan umpasa dan umpama ini adalah tergantung kepada konteks kegiatan yang dilakukan, ada umpasa untuk orang menikah, ada umpasa untuk orang meninggal, ada umpasa untuk paradaton, dan yang lainnya. Sedangkan untuk umpama dibuat untuk mengungkapkan sesuatu hal dalam bentuk kata yang lain, atau untuk menghaluskan seperti penggunaan perumpamaan pada bahasa Indonesia. FALSAFAH ni natua-tua imasongon tudosan alai godangan doi hasil ni angka pengalaman natua-tua najolo naboi gabe poda tarlumobi tu angka naumposo. UMPASA (Peribahasa) ima songon pantun (Hata parjolo patorangkon hata parpudi) alai sasintongna hata pasu-pasu doi songon tangiang asa pasauton ni Amanta Debata, ai ganup namanghatahon Umpasa (pasu-pasu) ingkon tongtong do diakui dibagasan rohana na Debata do silehon pasu-pasu. UMPAMA (Perumpamaan) ima hata tudosan hampir mirip tu Falsafah ni natua-tua. Molo mandok Umpama unang hata (isi) ni Umpasa didok jala sebalikna molo mandok Umpasa unang ma hatani Umpama didok, asa taparrohahon ma i molo mandok Umpama manang Umpasa. UMPASA MASA KINI Umpasa pada masa kini telah berkembang dengan mengikuti perkembangan zaman dan dapat digunakan pada acara-acara tertentu, serta tidak hanya menggunakan umpasa yang telah ada sejak dulunya. Beberapa contoh Umpasa Batak Toba Umpasa (Peribahasa) 1: Adong na tuat sian dolok Adong na nangkok sian toruan Adong na ro sian habinsaran Adong na sian hasundutan Manumpak ma Debata Dilehon di hamu pasupasuan Umpasa (Peribahasa) 2 :Aek godang do aek laut Dos ni roha do sibaen nasaut Umpasa (Peribahasa) 3 : Ampapaga dolok Ampapaga sibuluan Unang hita marbada Ai hita do marsogot hita haduan Umpasa (Peribahasa) 4 : Anduhur martutu Diatas ni Purbatua Sai sinur ma pinahan Gabe na niula Umpasa (Peribahasa) 5 : Antajau haludi Tu pining na mongkol mata Sahalak pe mandok nauli Luhut ma hita nampunasa Umpasa (Peribahasa) 6 : Ansimun sada holbung Pege sangharimbang Menimbung rap tu toru Mangangkat rap tu ginjang Umpasa (Peribahasa) 7 : Bagot na ganjang do ho Marbulung di dangkana Na denggan maruhum do ho Jala na denggan marisara Umpasa (Peribahasa) 8 : Balintang ma pagabe Tumandanghon sitandoan Arinta ma gabe Molo masi paolo - oloan Umpasa (Peribahasa) 9 :
Disi si rungguk Disi si tata Ia disi hita juguk Disi Ompunta Debata Umpasa (Peribahasa) 10 : Dolok martimbang hatubuan ni si marhorahora Di Debata na di ginjang do suhat - suhat ni hita jolam Umpasa (Peribahasa) 11 : Eme sitambatua Parlinggoman ni siborok Luhut ma hita martua Debata ma na marorot Umpasa (Peribahasa) 12 : Godang si butongbutong Otik si pir ni tondi Umpasa (Peribahasa) 13 : Hodong do pahu Holi - holi sanghalia Ho do ahu Hita na marsada ina Umpasa (Peribahasa) 14 : Holong mangalap holong Umpasa (Peribahasa) 15 : Hapur di tagan do ahu Napuran di hallungan Naingot di padan do ahu ingot di paruhuman Umpasa (Peribahasa) 16 : Ia tambor bonana Rugun ma dohot punsuna Ia gabe maradong Hula - Hulana songon i ma nang dohot Boruna Umpasa (Peribahasa) 17 : Jolo suhat do anso poring Dungi dope na boboion Artinya: Jangan menunjukkan kekuatan dan memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain Umpasa (Peribahasa) 18 : Loting ma tomboman Marsaor batu hula Tondinta masingonggoman Jala gabe na ni ula Umpasa (Peribahasa) 19 : Madabu batu tu binang na bolon jolo manguhum raja Disi pe asa tolonon panolon Umpasa (Peribahasa) 20 : Manuk na mangonsop pirana Manuk sabungan na mamargut anaknya Ingkon tiptipon do tuktukna Umpasa (Peribahasa) 21 : Mangungkor honong bosi Pora - pora di babana Marpungu angka dongan Masipaboa hatana Umpasa (Peribahasa) 22 : Marbou laho tu tapian Batuk – batu laho tu bagas mandi Artinya: Jika akan melakukan sesuatu pekerjaan lebih dahulu dimusyawarahkan Umpasa (Peribahasa) 23 : Mardangka ma dangkana Marranting ma rantingna Ia gabe ma amana Sai gabe ma nang anggina Umpasa (Peribahasa) 24 : Martantan ma baringin Marurat jabi - jabi Mamora ma hita madingin Tumpahon ni Ompunta Mulajadi Umpasa (Peribahasa) 25 : Metmet aekna metmet dengkena Balga aek balga dengkena Umpasa (Peribahasa) 26 : Metmet do hapur lunsut Dijujung do uluna Umpasa (Peribahasa) 27 : Molo hombar tu auga Hombar ma tu gagatan Umpasa (Peribahasa) 28 : Na tiniopbatahi Batahi pamarai Sai sauduran satahi Angka na marhaha - maranggi Umpasa (Peribahasa) 29 : Napuran tano - tano Na sinuan di onan Manumpak Debata Di paganda parbinotoan Umpasa (Peribahasa) 30 : Rata pe bulung ni salak Rataan do bulung ni sitorop Uli pe hata sahalak Ulian do hata torop Umpasa (Peribahasa) 31 : Rim ni tahi do gogona Rantosna do tajomna Artinya : Pada persatuan dan kesatuan terletak kekuatan Umpasa (Peribahasa) 32 : Rumah ijuk di jolo ni sopo gorga Asi ma roha ni Amanta Debata Sai dilehon ma dihamu Anak na bisuk dohot boru namarroha Umpasa (Peribahasa) 33 : Simbora gukguk Sai mamora ma hita luhut Umpasa (Peribahasa) 34 : Songon bayo pangkejei Lomlom pangkal igungna Artinya: Orang yang berletih – lelah mengerjakan pekerjaan demi kepentingan orang banyak Umpasa (Peribahasa) 35 : Songon sihapor lunjung Nijunjung suada ulu Niporsan suada abara Artinya: Rela mempertanggunggungjawabkan suatu tugas demi kepentingan yang lebih besar Umpasa (Peribahasa) 36 : Tinutung tu api Pinatuba songon soban Naung tinuptup ni tahi Unang be masisolsolan Umpasa (Peribahasa) 37 : Tingko ma inggir - inggir Tingko rata - rata Pasu - pasu angka nauli Pasauthon Amanta Debata Umpasa (Peribahasa) 38 : Tonggi ma sibahut Tabo ma pora - pora Gabe ma hita luhut Jala sude ma hita mamora Umpasa (Peribahasa) 39 : Tubu unte dohot durina Tubu jolma dohot ugarina Umpasa (Peribahasa) 40 : Unang sumuan dulang Mangaithon jabi - jabi Unang mambahen na so uhum Mangulahon na so jadi Umpasa (Peribahasa) 41 : Uhum sipangan anak Uhum sipangan boru Artinya: Menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan golongan atau kelompok Umpasa (Peribahasa) 42 : Bintang na rumiris, ombun na sumorop. Sai tubu di hamu anak na riris, boru pe antong torop. Umpasa (Peribahasa) 43: Andor hadukka, togutogu ni lombu. Sai sahat hamu saurmatua, togutoguan ni pahompu. Umpasa (Peribahasa) 44 : Tumbur ni pangkat, tu tumbur ni hotang. Tusi Hamu mangalangka, tusi dapotan pangomoan. Umpasa (Peribahasa) 45 : Sai torop ma dangkana, rugun dohot bulungna. Horas jala gabe hula-hulana, sogon i dohot boruna. Umpasa (Peribahasa) 46 : Simbora gukguk, di julu ni tapian, Horas jala gabe hita luhut, jala dapotan parsaulian. Falsafah Batak Di jolo raja siahaan, dipudi raja sipaimaon (Hormatan do natua-tua dohot angka raja). Sada silompa gadong dua silompa ubi, Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok (Unang maharaphu tu dongan). Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame (Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma). Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara (Dame ma). Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo (Bertanggung-jawab). UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda) Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan, Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan. Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban, Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan. Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban, Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan. Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina. Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila, Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba. Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi, Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi. Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do Rabba na poso, ndang piga tubuan lata Hami na poso, ndang piga na umboto hata UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP. (Untuk pasangan saat tukar cincin) Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna, Nunga hujalo hami tintin marangkup, Dohonon ma hata pasu-pasuna. Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere, Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere. Amak do rere, dakka do dupang, Anak do bere, Amang do Tulang. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua, Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua. UMPASA TU NA BARU MARBAGAS. (Untuk pasangan yang baru menikah) Dakka ni arirang, peak di tonga onan, Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru, Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang, Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora, Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan, Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari, Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut. Ruma ijuk tu ruma gorga, Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan, Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon, Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16. Andor hadukka ma patogu-togu lombu, Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu. UMPASA MANGAMPU Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan, Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon, Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon. Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora. Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan, Napogos hian iba, boi do gabe mamora. Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan, Angka pasu-pasu na ni lehon muna, Sai dijangkon tondi ma dohot badan. Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan Angka pasu-pasu na pinasahat muna, Sai sude mai dipasaut Tuhan. Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu, Angka pasu-pasu pinasahat muna, Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu. Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu, Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami, Diampu hami ma di tonga jabu. Turtu ninna anduhur, tio ninna lote, Angka pasu-pasu pinasahat muna, Sai unang ma muba, unang mose. Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan, Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan. Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula, Mambahen marsundut-sundut soada mara. Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami, Sai horas ma nang hamu hula-hula. Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu, Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu. AKKA UMPASA NA ASING Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma, Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna. Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage, Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe. Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar, Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar. Sinuan bulu sibahen na las, Tabahen uhum mambahen na horas. Eme ni Simbolon parasaran ni si borok, Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot. Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna, Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna. Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna, Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna. Tuat si puti, nakkok sideak, Ia i na ummuli, ima ta pareak. Aek godang tu aek laut, Dos ni roha sibaen na saut. Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman. Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari, Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari. Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran, Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura, Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua. Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha. ________________________________________ Adong padan ,ruhut ,adat,ido siingoton Soadong padan ruhut ,adat,uhum,dohot hasomalon siingoton. Aek Sihoru-horu tu hinagnan I PARGAOLAN Namarhula-hula/marboru ikkon marsi haholongan Aek ni SILUDANG habaoran ni aek SIMARE Horasma akka tulang,na mamasu-masu akka bere Aek na tio na sai riong-riong di ginjang ni pinggan pasu Akka hula-hula na basa sae ringgas do mangalehon pasu-pasu Aek sihoru hour di toru ni DOLOK Mar timbang Manimbung rap tu toru mangangkat rap tu ginjang Aek Si bara-bara sae parekna i tu buan Tolong Molo soadong di iba mago do roha holong Aek ni Siburian marbona tu dolok Sitapongan Tiurma angka pancarian,luju-lujuma dohot pangomoan Aek puli dalan tu lumban tonga-tonga Sahat ma akka nauli unang muba jala unang longa Amani logong Laos ido ni logan Ikkon ingot do iba na denggan,na binahen ni dongan Andigan pe hita marbantal di bale-bale Andigan pe idaon NEGARA ta on sae di bgasan Dame Andalu ma sangkut-sangkut ni bonang MusuntaI hon na talu,hita holan na monang Andoras Andoris andor ni Purba tua Horasma hita jala torhis, sahat mulak tu jabuna Anduhur sae solop di dangka lupang Gabe ma Amanta suhut di nabean angka Raja Ampema di Simanjujung ,tuhuk di Abara Pirma tondi mangalo musu, sae margogo ma Mangalului na soada Asa tubuan laklak tubuan singkoru,tubuan sanggar di parsopoan Sai tubuan anak ma/tubuan boru,Asa jagar jagar di hangoluan Ansuan si sada pago,dipangulaan Sisada mudar sisada marga dang jadi marsibuatan Asa parsige parsige bulu,si tiga goli-goli Si parintar ma jambulan si paneang holi holi Assimun na gantung ronggang gantung songon durian Bohi na sae murning jot-jotan do mambahen iba hancitan Asing do aek huta, Asing do aek toba Asing gondang mula-mula asing muse do gondang somba-somba Asing do piduong Hurlang ,Asing do pidong satua Asing do Tulang,asing do simatua Asing lubuk asing do dekke na,asing ladang asing do sihaporna Asisibang jonok tu tomboman Badan na so jadi sirang tondi ma si gomgoman Artia bona ni ari sipaha sada, bona ni bulan Sai malos ma duhut duhut di hauma Tu gabe na ma eme di hauma,nangpe di tinggang udan ________________________________________ B. Bola bola ni tangan si tongka golom golomon Bola bola ni halak si tongka tangi tangihononton Bangun bangun narata tabo do paura uraon Hata hata nang ni dok,tongka do pauba ubahon Bangun bangun sinuan, bangun do salongan Molo uli sinuan nauli do sijaloon Baion naung ni duda ni letek bahen lage-lage Pasu pasu ni hula hula si bahen mamora dohot gabe Bagot na mararirang di toru ni panggomgoman Badan na so jadi sirang ,toni ma sigomgoman Barak bak ni sialang dapotsa papaluan Angka na martondong dohot nama martutur si tongka ma sipamaluan Baris baris ni gaja di rura pangaloan Nasa pangidoan ni hula hula tung dae so sooloan Molo so ni o0loan sai tubu do haurahon ,moloni oloan tubudo pangomoan Behama pandung dung bulung si dolok na timbo songon dia ma pasombulungun molo iba padao dao Bidang bulung ni rimbang,bilangan do bulung ni rudang Sai pandok ni dainang ikkon marbotu tulang Binanga ni si bulan di dolok ni parsingkaman Jumpang ma na niluluan,dapotma nani jalahan Binsar ma mata ni ari,poltak ma matani bulan Tubu ma boru na malo mancari jala boi pangalu aluan Binsar mata ni ari ama ni manggule Ro boru manopot hamu,dohot hami ma u lae Binsar matani ari,poltak matani bulan Horas ma anak lahi lahi,songoni anak parompuan Binarbar bagot,tarida do pangkona Tardapot do ibana di haol haol tinang kona Binuat hujur bosi ,golang golang pangarahutna So sadia pinatupa I sa godang ma pinasuna Bong-bong parsadaan si nuan di parporlakhan Ruhut dohot padan si pagabe na niula,jala sipasiniur pinahan Bona ni sihupi panjangkitan demban Marangkup do nauli,mardongan do na denggan Siangkup ni nauli ima panggabean dohot parhorasan Boras hata ni Tarutung,parbue hata ni TOBA Ulaon nunga marujung ,mulak ma hita di bagasan las ni rpha Bolon tiang ni ruma bolonando tiang ni sopo Torop ma naung saurmatua,toropan ma angkka naum poso Bunga na marloppit loppit,sai di songgopi lampu-lampu Tibuma ro si doli manopot au,dohot na olo mampangkulingi ahu Bulung ni bira,tu bulung ni singkoru, Sai tarpaima do iba tu sianak ni namboru Tu Bulung ni martampuk,tu bulung ni si marlasuna, Mamolus tu huta si bide,mangalului laklak nitabu-tabu. Binahen ni ingananni aek mata,tinahuan sian rura Nunga ni jalo tikki marangkup sian bere Pasahaton ni Tulang ma hat pasu pasu,asa anggiat : Tu buan laklak ,tubuan singkoru di toru ni bunga bunga Tubuan anak dohot tubuan boru,ma bere dohot boru nami, Laos gabe ma amana,gabe ma attonong amana dohot boruna Bulung ni bulu tu bulung ni hotang Tundal maralohon musu dompak maralohon dongan Bulung ni timbaho sae parasoran ni ambaroba, Sae horasma pangaranto songoni na marhuta di toba Bulung ni anta so soit tu bulung ni taen Dang hami parholit,tungi do pen a tarbahen ________________________________________ D. Dada si ala madungdung tu bonanang tali Dada roha na malungun dohot do mata manjalahi Dangka ni bulu godang parasaran I pidong papua Simburma ma godang akka dakdanak ulluson ni pura pura Na boi pajolohon,jala umurna sahat tu sahur matua Dangir danger ni batu dak dahan ni simbora Gabe do hita na marsianjuan,saut gabe jlala mamora Dangka ni tada tada sai jomba tu bonanaa Sala ni anak na mangonai tu anak na Dosa binahen ni amana ingkon di possan anakna Dangka do rantingna,laos pusukna do bulung na Hahana do angina molo na boi malo marhata Dangka ni antasoit parasaran ni pidong papua Tung na sojadi marholik maradopon hula hula Dangkani bulu godang tango pinangait aithon Daoma angka mara dohot parhordit horditon Danggur ma danggur barat,toho ma tu duhut duhut Nunga tung bosur na managan dohot sa gat marloppan juhut Dia ma lak lakna dia ma unokna,dia ma hatana,dia ma ni dokna Laos mar pinaboa amanta suhut Daling ma ni dalingkon,laos ma suak hudung ni bagot Natading tinadingkon hape na sinari na tua so dapot Denggan do bulu godang dengganan baen hite hite Denggan do anak dohot boru,naung magodang dengganan mardongan saripe Asa tubuan laklak jala tubuan singkoru Jala tubuan sanggar di parsopoan,tu buabn anak ma I ,dohot boru , Asa jagar jagar di hangoluan Dengke na metmet do hamu na jolo,noaeng gabe dekke nabalga Bere do hamu najolo,jala nuaeng gabe hela Dengke dengke jurung jurung di suruk ho bonani tolong Ale ito na marbaju,di rukkar ho si dangolon Sibahut ma ni during por pora di usehon, Tangis tangis tarilu ilu hape so adong si dangolon Dengke ni laean pineangkon,di ginjang ni pinggan pasung Hata panggabean dohot parhorasan pinasahat ni raja Boan hamu ma tu tonga ni jabu Denggan ma pangalanka,molo mangkuling ogung dohot sarune. Si sada urdo si sada langka,songon parluga ni parsolu. Mansai denggan do,antong maningkir tangga,dung sidung paulak une Patandahon naung sidung ulaon na marhula hula marboru Asa sahat sahat ni solu sahat tu botean,sahat leleng mangolu sahat tu panggabeaan Diama matana,diama altona Diama hatana,diama na didokna Diama langkat na,diama unokna Diama hata hatana diama pandokna Disima handina disima gandona,disima daina disima tabona Sir sir ma sirana toho muse dohot asomna Doding ni doding,doding ni si marlasuna Sude pasu-pasu muna sae muba jala unang sesa Dolok ni purba tua tondokhon ni si borotan Sahat ma hamu sahur matua las tiur tiurma panapotan Dolok si pakpahi tondokhon ni porba tua Sahat ma angka nauli,dohot sahat ma tu saor matua Dolok ni janji mauli,hatubuan ni si marhora hora Saut ma goar na I goar na uli si boan sahat tu na mamora Dolok ni panatapan tondongkon ni parabunga Horas ma na di pardalanan,horas muse tu tujuan na Dolok lonu tua,hatubuan ni si martolu Akka poda ni natua tua,si pardenggan ngolu ngolu Dolok ni si marjarunjung panatapan tu tao toba, Salpu ma angka na lungun,sai roma las ni roha. Duru ni harnagan hatubuan ni sangge-sangge Sahat ma hamu sahur matua,sahat tu na gabe. Duru ni harangan hatubuon ni tada tada Hansir do tiopon ni tangan mandanggur na so ada ________________________________________ E. Eme si tamba tua,parlingoman ni dengke ni namok- mok Debata na di ginjang,horasma tondi ta di parorot Eme ni hinalang denggan do bahen buni di panamean Horas ma na mangallang,jala horas ma na mangalehan. ________________________________________ Sumber: http://www.tobatabo.com/shownews.php?cat=9&news_id=210 http://fmpb-sumut.blogspot.com/2012/06/pantun-dalam-bahasa-batak.html http://id.wikipedia.org/wiki/Umpasa http://habatakon01.blogspot.com/2011/05/umpasa-umpama-falsafah-puisi-jenis.html
Kamis, 26 Februari 2009
Adat Batak (perlu atau tidak) ?
Yang kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu Somba marhula-hula, Elek Marboru, manat mardongan tubu, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi burju mardongan sahuta. Dalihan na tolu adalah suatu kerangka (framework) yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai religius yang sangat dalam. Akar dari sistem nilai dalihan na tolu adalah kerendahan hati (humble). Bagaimana tidak, seorang orang Batak harus hormat sama hula-hulanya, tanpa syarat. Tidak dikatakan, hormatilah hula-hulamu, kalau dia kaya, punya jabatan, atau baik. Demikian juga, pada saat kita hula-hula, harus elek kepada boru, walaupun dalam tatanan kekerabatan Batak, Boru adalah kelumpok yang dapat kita minta untuk melayani kita (marhobas), tetapi dalam kedudukan kita yang lebih tinggipun kita harus elek. Manat mardongan tubu, juga merupakan satu tatanan interaksi masyarakat Batak kepada keluarga yang semarga yang sangat unik. kenapa dikatakan manat (hati-hati). Dengan dongan sabutuha, sangan jarang didalam umpama/umpasa yang memberikan kita solusi, untuk mendamaikan orang yang sabutuha kalau terjadi konflik diantara mereka. Kalau mar-hula-hula, kita masih bisa membawa makanan kepada hula-hula untuk minta maaf. Demikian juga marboru, kita bisa memberikan ulos untuk minta maaf. Jadi kalau ada orang yang mempertentangkan adat Batak dengan agama, agama apapun, mungkin itu hanyalah ketidak tahuan dari sistem nilai budaya batak itu sendiri.
Banyak juga orang Batak yang memonopoli sifat-sifat buruk yang selalu dikaitkan sebagai HANYA milik orang Batak, yang umum disebut TEAL, LATE, dan ELAT. Tapi kalau kita uji, hampir semua suku bangsa, juga memiliki sifat-sifat ini. Bedanya adalah, orang Batak berani mengakui, bahwa sifat-sifat itupun ada di orang Batak, sedang masyarakat lain tidak berani mengakuinya. Menurut saya ini juga hal yang positif. Sebab dengan mengakuinya (awareness), adalah merupakan langkah awal untuk menghindari, mengurangi atau bahkan mengilangkannya. Kalau kita tidak ada awareness mengenai sifat-sifat yang jelek ini, maka kita akan menganggap hal ini adalh hal yang lumrah, atau “apa boleh buta”.
Adat Batak material yang lainnya, banyak terkandung di dalam umpama/umpasa Batak, dalam milis ini, mungkin bisa kita undang natua-tua kita untuk seskali menjelaskan beberapa umpama/umpasa Batak. Di dalamnya terkandung sistem nilai yang sangat baik.
Dari penjelasan saya disini, adat Batak formal, akan berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Jangankan masalah waktu, yang mengakibatkan dibiasakannya “ulaon sadari”, mungkin pada saatnya nanti, pesta adat Batak bisa dilakukan melalui video conference, tidak harus ada di tempat yang sama. Tapi jangan juga ditiadakan sama sekali. Adat formal Batak adalah laboratorium bagi orang Batak untuk mempraktekkan adat Batak material. Dengan kita mengikuti pesta-pesta/acara adat Batak, maka pemahaman kita akan adat Batak material akan semakin baik.
Adat Batak formal sangat dilandasi oleh satu prinsip “dos ni roha sibaen na saut” (konsensus), tapi adat Batak material adalah suatu kerangka sistem nilai Batak yang membuat budaya Batak lestari.
http://harrymangapul.wordpress.com
Jenis Ulos Batak dan Fungsinya
Dahulu sudah memiliki Kerajaan sendiri, Mardebata Mulajadi Nabolon (“pencipta yang maha besar”), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (“Ringgit Sitio Suara”), uning-uningan namarragam (“musik”), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum.
Namun sekarang ini sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan orang Batak Toba sudah banyak yang tidak mengetahui bahasa daerahnya sendiri, melihat perkembangan teknologi sekarang ini, tor-tor Batak sudah banyak yang tidak mengetahuinya, bahkan dewasa ini Ulos Batak tidak dikenal jenis-jenis dan Fungsinya.
gbrmacamulos.JPG
2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa ma tusi Musa laho maho tumopot bangso i jala urasi nasida sadarion dohot marsogot asa ditatap nasida Ulos na.
Dengan dasar ini Bersama Toba dot Com, mensosialisasikan Jenis dan Fungsi Ulos Batak:
I.Ulos Antak-Antak, dipakai selendang orang tua melayat orang meninggal, dan dipakai sebagai kain dililit/ hohop hohop waktu acara manortor.
II.Ulos Bintang Maratur, Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya didalam acara-acara yakni: Diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru oleh orang tua, kalau diadat Toba Ulos ini diberikan waktu selamatan Hamil 7 Bulan oleh orang tua, tetapi lain halnya kalau di Tarutung Ulos ini yang diberikan waktu acara suka cita (“gembira”), Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu yang baru lahir, parompa walaupun kebanyakan kasih mangiring apalagi yang maksudnya agar anak yang baru lahir diiringi anak selanjutnya, kemudian ulos ini dipakai untuk pahompu yang dibabtis dan juga dipakai untuk sebagai selendang.
III.Ulos Bolean, Ulos ini dipakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
IV.Ulos Mangiring, Ulos ini dipakai selendang, Tali-tali, juga Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang dimaksud sebagai Simbol keinginan agar sianak diiringi anak yang seterusnya, bahkan Ulos ini dapat dipakai sebagai Parompa.
V.Ulos Padang Ursa, dipakai sebagai Tali-tali dan Selendang.
VI..Ulos Pinan Lobu-Lobu, dipakai sebagai Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan, Ulos ini sebenarnya terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu Ulos yang kegunaannya antara lain:
Ulos ini dapat dipakai berbagai keperluan acara-acara duka cita atau suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ disandang oleh Raja-Raja Adat maupun oleh Rakyat Biasa selama memenuhi pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat suhut sihabolonon/ Hasuhutonlah (“tuan rumah”) yang memakai ulos ini, kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran, ulos ini juga dipakai/ dililit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton, dan Ulos ini sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan.
VIII,Ulos Ragi Hotang, Ulos ini biasa diberi kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai Ulos Hela.
IX.Ragi Huting, Ulos ini sekarang sudah Jarang dipakai, konon jaman orang tua dulu sebelum merdeka, anak-anak perempuan pakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari dililit didada (Hoba-hoba), dan kemudian dipakai orang tua sebagai selendang apabila bepergian.
X.Ulos Sibolang Rasta Pamontari, Ulos ini kalau jaman dulu dipakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang ini sibolang bisa dikatakan symbol duka cita, dipakai juga sebagai Ulos Saput (yang meninggal orang dewasa yang belum punya cucu), dan dipakai sebagai Ulos Tujung (Janda/Duda yang belum punya cucu), dan kemudian pada peristiwa duka cita Ulos ini paling banyak dipergunakan oleh keluarga dekat.
XI.Ulos Sibunga Umbasang dan Ulos Simpar, dipakai sebagai Selendang.
XII.Ulos Sitolu Tuho, Ulos ini dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita,
XIII.Ulos Suri-suri Ganjang, dipakai sebagai Hande-hande pada waktu margondang, dan dipergunakan sebagai oleh pihak Hula-hula untuk manggabe i borunya karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe.
XIV.Ulos Ragi Harangan, pemakaiannya sama dengan Ragi Pakko.
XV. Ulos Simarinjam sisi, dipakai sebagai kain, dan juga dilengkapi dengan Ulos Pinuncaan disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani yang memakai ini satu orang paling depan.
XVI. Ulos Ragi Pakko, dipakai sebagai selimut pada jaman dahulu dan pengantar wanita yang dari keluarga kaya bawa dua ragi untuk selimut yang dipergunakan sehari-hari, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua meninggal akan disaput pakai Ragi ditambah Ulos lainnya yang disebit Ragi Pakko lantaran memang warnanya hitam seperti Pakko.
XVII.Ulos Tumtuman, dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan dipakai anak yang pertama dari hasuhutan.
XVIII Ulos Tutur-Tutur, dipakai sebagai tali-tali dan sebagai Hande-hande yang sering diberikan oleh orang tua sebagai Parompa kepada cucunya.
Maka dari jenis dan fungsi Ulos ini, disebut pengenalan jati diri orang batak sesuai Budaya dan Adatnya, dan orang Batak dikenal dari Ulos yang disandangnya, sian Tortornya bahkan dari Tungkot na.
Horassssss.!!!!!.
http://bersamatoba.com
Adat Batak (untuk orang meninggal)
Yang disebut pertama tadi masih dibagi atas dua macam, yaitu apakah orangnya sudah kawin atau belum. ( Pria yang sudah tua dalam umur tapi belum menikah, teristemewanya pria yang tidak mau kawin, sering mendapat ejekan dari masyarakat; Pria tersebut tidak boleh angkat bicara dalam upacara adat ). Orang tua serta para kerabat dari yang meninggal sebelum kawin itu meratap ( mangandung ) terus-menerus. Ulos saput baginya ( Pria atau wanita ) adalah dari orangtuanya. Ulos ini diletakkan di atas mayat, seolah-olah lampin sewaktu ia masih bayi, melambangkan kasih sayang dari orang yang memberikannya, apa lagi kalau yang meneinggal tersebut masih bayi.
Wafat seorang suami atau isteri belum mempunyai anak, atau sudah mempunyai anak tapi belum mempunyai cucu, dianggap oleh masyarakat Batak lebih sedih lagi daripada yang diuraikan sebelum itu, apa lagi kalau ada anak-anak yang masih kecil. Hal ini tampak dari ratapan orangtua serta para kerabat. Yang datang melayat juga lebih banyak. Jikalau sang suami yang meninggal dunia itu, maka penderitaan isterinya yang masih hidup digelari matipul ulu, artinya "kehilangan kepala rumah tangga", sedang kalau sang isteri yang lebih dulu meninggal digelarilah penderitaan suaminya matompas tataring ( baca; matoppas tataring ), artinya "tumpas dapur".
Dalam hal suami atau isteri meninggal dunia, sebagaimana diuraikan diatas, ada dua macam ulos memainkan peranan, yaitu selain ulos saput tersebut diatas, ada lagi apa yang dinamai ulos tujung ( ulos berkabung ). Di atas mayat sisuami atau siisteri yang meninggal diletakkan ulos saput, sedang sang janda balu ( pasangannya masih hidup ) mendapat ulos tujung. Jadi kalau sang suami yang meninggal maka isterinya yang masih hidup mendapat ulos tujung; sebaliknya kalau sang isteri yang meninggal maka suaminya yang masih hidup mendapatnya. Ulos ini ditebarkan di atas kepala orang yang bersangkutan bagaikan bendera berkabung. Bagaimana jika kalau tidak ada lagi suami atau isteri yang meninggal tadi masih hidup? Dalam hal ini tidak ada ulos berkabung meskipun ada anak mereka.
Mari kita tinjau dulu sebentar perbedaan dalam tradisi diantara daerah yang satu dan daerah yang lain di bona nipasogit mengenai siapa yang memberikan ulos saput dan siapa yang memberikan ulos tujung, oleh sebab hal itu tanpak juga didaerah perantauan diantara pihak-pihak yang meneruskan tradisi dari daerah asli masing-masing. Menurut tradisi disuatu daerah tertentu dibonani pasogit, baik ulos saput maupun ulos tujung harus dari pihak hula-hula (parboru), yaitu orang tua dari si istri. Di daerah lain berlaku tradisi ulos tujung ini memang dari puhak hula-hula (parboru), akan tetapi ulos saput diberikan oleh tulang dari yang meninggal tersebut. (hal ini katanya untuk memberikan kesempatan kepada sang tulang untuk memperlihatkan kasih sayang seolah-olah yamg meninggal dunia tadi masih bayi). Ada tradisi lain menenutkan , kalau sang istri yang wafat itu maka bukan mamanya (tulang) yang menyampaikan ulos saput tersebut, akan tetapi tulang dari suaminya untuk mengetahui mengapa begitu mari kita lihat dulu latar belakangnya pada jaman dahulu. Sering ada katanya saling pengertian diantara pihak orang tua dari yang meninggal tadi dengan tulang dari si suami yang balu itu untuk mengusahakan agar ibu tiri bagi anak-anak yang kematian tersebut ialah adik dari alamarhum atau salah seorang putri dari tulang si suami. Hal ini menyebabkan tulang ini memberikan ulos saput dan simertua tadi menyampaikan ulos tujung. (untuk mengakhiri masa berkabung maka datang lagi mertua ini disertai tulang tersebut membuka ulos berkabung, sambil memperkenalkan calon istri pengganti).
Mengenai kapan berakhir masa berkabung tidak ada juga keseragaman di zaman dulu di bona ni pasogit. Ada tradisi bahwa masa berkabung otomatis berakhir kalau disekitar di tempat kediaman janda balu tadi ada yang meninggal, lalu dengan turut serta meratap tanggal sendiri ulos berkabung itu. di suatu daerah tertentu suami atau istri yang balu itu disertai para kerabat dekat, setalah memberitahukan lebih dulu, lalu pergi kerumah hula-hula (parboru) untuk upacara pasae tujung (menghakhiri masa bergabung). Di daerahlain belaku tradisi bahwa yang datang itu adalah hula-hula (parboru) ke rumah janda balu tadi; upacara yang di langsungkan di sini dinamai mambuka tujung (atau mengungkap tujung; baca: mangukkap tujung). Teranglah kiranya mengapa ulos berkabung harus dari hula hula (parboru), oleh sebab dia pula yang dalam upacara tertentu membukannya untuk mengakhiri masa berkabung.
Sumber: http://www.geocities.com/porseanauli
Sejarah Suku Bangsa Batak
Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.
Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.
Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.
Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:
* Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. •Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).
* Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.
Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.
Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.
Sumber:
disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.
SIAPAKAH ORANG BATAK ?
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:
1. Batak Toba (Tapanuli), mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan Bahasa Batak Toba.
2. Batak Simalungun, mendiami Kabupaten Simalungun dan menggunakan Bahasa Batak Simalungun.
3. Batak Karo, mendiami Kabupaten Karo dan menggunakan Bahasa Batak Karo.
4. Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan dan menggunakan Bahasa Batak Mandailing.
5. Batak Pakpak, mendiami Kabupaten Dairi dan menggunakan Bahasa Pakpak.
Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, mereka mempunyai marga-marga seperti halnya orang Batak.
Kumpulan Batak 2003/ ET Seite 1 04.05.2003
DALIHAN NA TOLU, TOLU SAHUNDULAN
(The Philosophy of Life)
Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”.
Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:
1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.
2. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
3. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.
Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang.
Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat.
Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya.Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.
MARGA dan TAROMBO
MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal).
Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki.
Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya.
Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga.
Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo.
Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling “mardongan sabutuha” (semarga) dengan panggilan “ampara” atau “marhula-hula” dengan panggilan “lae/tulang”.
Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuan ayah/bibi), “Amangboru/Makela”,(suami dari adik ayah/Om), “Bapatua/Amanganggi/Amanguda” (abang/adik ayah), “Ito/boto” (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.
ULOS BATAK
Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin.
Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan : (1) matahari, (2) api, dan (3) ulos.
Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.
Dalam pengertian adat Batak “mangulosi” (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.
Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana.
Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak” bisa diartikan penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.
Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).
HORAS!
Adalah salam khas orang Batak yang berarti selamat, salam sejahtera, yang kerap diucapkan dalam kehidupan sehari-hari bila 2 orang atau lebih bertemu.
Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahobu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.
Horas bisa juga berarti selamat jalan/datang, selamat pagi/siang/malam dan lain lain yang maknanya baik. Karena populernya kata horas, orang-orang non Batak juga sering mengucapkan kata tersebut jika bertemu dengan orang Batak.
LEGENDA SI RAJA BATAK
Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.
Mulajadi Na Bolon berkata, “Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!” Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.
Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.
Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). “Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA,” kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
“Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?” tanya Tuan Batara Guru.
“Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,” kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.
Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.
Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
“Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal,” katanya terisak-isak.
“Jangan begitu adikku,” kata Datu Tantan Debata. “Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda.”
Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar “gondang” karena ia ingin “manortor” (menari) semalam suntuk.
Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.
Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke “para-para” dan dari sana ia melompat ke “bonggor” kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!
Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. “Sorry ya, apa lagi saya,” katanya.
Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar “gondang” semalam suntuk karena ia ingin “manortor” juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).
Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.
Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.
Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.
“OK,” katanya. “Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan.”
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.
Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).
Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.
Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!
http://simbolonforgovenor.wordpress.com
Pernikahan Adat Batak
Sebagai bukti bahwa santapan /makanan adat itu adalah hewan yang utuh, pihak pria harus menyerahkan bagian-bagian tertentu hewan itu (kepala, leher, rusuk melingkar, pangkal paha, bagian bokong dengan ekornya masih melekat, hatu, jantung dll) . Bagian-bagian tersebut disebut tudu-tudu sipanganon (tanda makanan adat) yang menjadi jambar yang nanti dibagi-bagikan kepada para pihak yang berhak, sebagai tanda penghormatan atau legitimasi sesuai fungsi-fungsi (tatanan adat) keberadaan/kehadira n mereka didalam acara adat tersebut, yang disebut parjuhut.
Sebelum misi/zending datang dan orang Batak masih menganut agama tradisi lama, lembu atau kerbau yang dipotong ini ( waktu itu belum ada pinahan lobu) tidak sembarang harus yang rerbaik dan dipilih oleh datu. Barangkali ini menggambarkan hewan yang dipersembahkan itu adalah hewan pilihan sebagai tanda/simbol penghargaan atas pengorbanan pihak perempuan tersebut. Cara memotongnya juga tidak sembarangan, harus sekali potong/sekali sayat leher sapi/kerbau dan disakasikan parboru (biasanya borunya) jika pemotongan dilakukan ditempat paranak (ditaruhon jual). Kalau pemotongan ditempat parboru (dialap jual) , paranak sendiri yang menggiring lembu/kerbau itu hidup-hidup ketempat parboru. Daging hewan inilah yang menjadi makanan pokok “ parjuhut” dalam acara adat perkawinan (unjuk itu). Baik acara adat diadakan di tempat paranak atau parboru, makanan/juhut itu tetap paranak yang membawa /mempersembahkan
Kalau makanan tanpa namargoar bukan makanan adat tetapi makanan rambingan biar bagaimanpun enak dan banyaknya jenis makananannya itu. Sebaliknya “namargoar/tudu- tudu sipanagnaon” tanpa “juhutnya” bukan namrgoar tetapi “namargoar rambingan” yang dibeli dari pasar. Kalau hal ini terjadi di tempat paranak bermakna “paranak” telah melecehkan parboru, dana kalau ditempat parboru (dialap jula) parboru sendiri yang melecehkan dirinya sendiri. Dari pengamatan hal seperti ini sudah terjadi dua kali di Batam, yang menunjukkan betapa tidak dipahami nilai luhur adat itu
Anggapan acara adat Batak rumit dan bertele-tele adalah keliru, sepanjang ia diselenggarakan sesuai pemahamn dan nilai luhur adat itu sendiri. Ia menajdi rumit dan bertele-tele karena diselenggrakan sesuai pamaham atau seleranya
URUTAN KEGIATAN
Gambar Nama-nama Bagian Hewan Sapi/Kerbau (Tanda makanan Adat)
BAGIAN I PRA NIKAH
Yang dimaksud dengan pra nikah disini adalah proses yang terjadi sebelum acara adat pernikahan.
A. Perekenalan dan bertunangan.
Pernikahan tidak selalu dengan proses ini, khususnya ketika masih masanya Siti Nurbaya.
B. Patua Hata.
Terjemahannya menyampaikan secara resmi kepada orang tua perempuan hubungan muda mudi dan akan dilanjutkan ke tingkat perkawinan. Dengan bahasa umum, melamar secara resmi.
C. Marhori-hori dinding.
Membicarakan secara tidak resmi oleh utusan kedua belah pihak menyangkut rencana pernikahan tersebut.
D. Marhusip.
Arti harafiahnya adalah berbisik. Maksudnya kelanjutan pembicaraan angka III tetapi sudah oleh utusan resmi, bahkan ada kalanya sudah oleh kedua pihak langsung.
E. Pudun Saut.
Parajahaon/ Pengesahan kesepakatan di Marhusip di tonga managajana acara yang dihadiri dalihan na tolu dan suhi ampang na opat masing-masing pihak. Disini pihak Paranak/Pria sudah membawa makanan adat/makanan namargoar.
Catatan:
Aslinya dikatakan “Marhata Sinamot” dimana pembicaraan langsung tanpa didahului marhusip.
Yang pokok dibicarakan dalam acara adat Pudun Saut anatara lain adalah
1. Sinamot.
2. Ulos
3. Parjuhut dan Jambar
4. Alap Jual atau Taruhon Jual)
5. Jumlah undnanga
6. Tanggal dan tempat pemberkatan.
7. Tatacara.
(Selengkapnya lihat dalam Pedoman Pudun Saut).
BAGIAN II UNJUK ATAU ACARA ADAT PERNIKAHAN
Acara ini diselenggarakan setelah acara pernikahan secara agama sesuai yang diatur dalam UU untuk itu.
A BEBERAPA Pengertian POKOK DALAM ADAT PERKAWINAN
1. Suhut , kedua pihak yang punya hajatan
2. Parboru, orang tua pengenten perempuan=Bona ni haushuton
3. Paranak, orang tua pengenten Pria= Suhut Bolon.
4. Suhut Bolahan amak : Suhut yang menjadi tuan rumah dimana acara adat di selenggrakan.
5. Suhut naniambangan, suhut yang datang
6. Hula-hula, saudara laki-laki dari isteri masing-masing suhut
7. Dongan Tubu, semua saudara laki masing-masing suhut ( Tobing dan Batubara).
8. Boru, semua yang isterinya semarga dengan marga kedua suhut ( boru Tobing dan boru Batubara).
9. Dongan sahuta, arti harafiah “teman sekampung” semua yang tinggal dalam huta/kampung komunitas (daerah tertentu) yang sama paradaton/solupnya.
10. Ale-ale, sahabat yang diundang bukan berdasarkan garis persaudaraan (kekerabatan atau silsilah) .
11. Uduran, rombongan masing-masing suhut, maupun rombongan masing-masing hula-hulanya.
12. Raja Parhata (RP), Protokol (PR) atau Juru Bicara (JB) masing-masing suhut, juru bicara yang ditetapkan masing-masng pihak
13. Namargoar, Tanda Makanan Adat , bagian-bagian tubuh hewan yang dipotong yang menandakan makanan adat itu adalah dari satu hewan (lembu/kerbau) yang utuh, yang nantinya dibagikan.
14. Jambar, namargoar yang dibagikan kepada yang berhak, sebagai legitimasi dan fungsi keberadaannya dalan acara adat itu.
15. Dalihan Na Tolu (DNT), terjemahan harafiah”Tungku Nan Tiga” satu sistim kekerabatan dan way of life masyarakat Adat Batak
16. Solup, takaran beras dari bambu yang dipakai sebagai analogi paradaton, yang bermakna dihuta imana acara adat batak diadakan solup/paradaton dari huta itulah yang dipakai sebagai rujukan, atau disebut dengan hukum tradisi “sidapot solup do na ro.
B PROSESI MASUK TEMPAT ACARA ADAT (Contoh Acara di Tempat Perempuan)
Raja Parhata/Protokol Pihak Perempuan= PRW
Raja Parhata/Protokol Pihak Laki-laki = PRP
Suhut Pihak Wanita = SW
Suhut Pihak Pria = SP
I. PRW meminta semua dongan tubu/semaraganya bersiap untuk menyambut dan menerima kedatangan rombongan hula-hula dan tulang
II. PRW memberi tahu kepada Hula-hula, bahwa SP sudah siap menyambut dan menerima kedatangan Hula-hula
III. Setelah hula-hula mengatakan mereka sudah siap untuk masuk, PRW mempersilakan masuk dengan menyebut satu persatu, hula-hula dan tulangnya secara berurutan sesuai urutan rombongan masuk nanti: dimulai dar Hula-hula Simorangkir
1.Hula-hula, ……
2.Tulang, …….
3.Bona Tulang, …..
4.Tulang Rorobot, …..
5.Bonaniari, ……
6.Hula-hula namarhahamaranggi:
-a …
-b….
-c….
dst
7.Hula-hula anak manjae, ….. ,
dengan permintaan agara mereka bersam-sama masuk dan menyerahkan pengaturan selanjutnya kepada hula-hula Simorangkir
IV. PR Hulahula, menyampaikan kepada rombongan hula-hula dan tulang yang sudah disebutkan PRW pada III , bahwa SW sudah siap menerima kedatangan rombongan hula-hula dan tulang dengan permintaan agar uduran Hula-hula dan Tulang memasuki tempat acara , secara bersama-sama.
Untuk itu diatur urut-urutan uduran (rombongan) hula-hula dan tulang yang akan memasuki ruangan. Uduran yang pertama adalah Hula-hula,……, diikuti TULANG …….sesuai urut-urutan yang disebut kan PR W pada III.
V. MENERIMA KEDATANGAN SUHUT PARANAK (SP).
Setelah seluruh rombongan hula-hula dan tulang dari SW duduk (acara IV), rombongan Paranak/SP dipersilakan memasuki ruangan.
1. PRW, memberitahu bahwa tempat untuk SP dan uduran/rombongannya sudah disediakan dan SW sudah siap menerima kedatangan mereka beserta Hula-hula , Tulang SP dan uduran/rombongannya .
6. PRP menyampaikan kepada dongan tubu Batubara, bahwa sudah ada permintaan dari Tobing agar mereka memasuki ruangan.
Kepada hula-hula dan tulang (disebutkan satu perasatu) yaitu:
1. Hula-hula, ….
2. Tulang, …..
3. Bona Tulang, ….
4. Tulang Rorobot, …..
5. Bonaniari , …..
6. Hula-hula namarhaha-marnggi:
- a…….
- b…..
- c……..
- dst
7. Hula-hula anak manjae…..
PRP memohon, sesuai permintaan hula-hula SW agar mereka masuk bersama-sama dengan SP. Untuk itu tatacara dan urutan memasuki ruangan diatur, pertama adalah Uduran/rombongan SP& Borunya, disusul Hula-hula….., Tulang…..dan seterusnya sesuai urut-urutan yang telah dibacakan PR Batubara (Dibacakan sekali lagi kalau sudah mulai masuk).
C MENYERAHKAN TANDA MAKANAN ADAT.
(Tudu-tudu Ni Sipanaganon)
Tanda makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (tanggalan), rusuk melingkar (somba-somba) , pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan jantung ditempatkan dalam baskom/ember besar. Letak tanda makanan adat itu dalam tubuh hewan dapat dilihat dalam gambar.
Gambar Nama Jambar/Tanda Makanan Adat
(Bagin Tubuh Hewan Lembu atau Kerbau)
Tanda makanan adat diserahkan SP beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP, diserahkan kepada SW dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan mengatakan walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya semoga ia tetap membawa manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang menyantap nya, sambil menyebut bahasa adat : Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna, tung so sadia (otik) pe naung pinatupa i, sai godangma pinasuna.
D MENYERAHKAN DENGKE/IKAN OLEH SW
Aslinya ikan yang diberikan adalah jenis “ihan” atau ikan Batak, sejenis ikan yang hanya hidup di Danau Toba dan sungai Asahan bagian hulu dan rasanya memang manis dan khas. Ikan ini mempunyai sifat hidup di air yang jernih (tio) dan kalau berenang/berjalan selalu beriringan (mudur-udur) , karena itu disebut ; dengke sitio-tio, dengke si mudur-udur (ikan yang hidup jernih dan selalu beriringan/berjalan beriringan bersama)
Simbol inilah yang menjadi harapan kepada penganeten dan keluarganya yaitu seia sekata beriringan dan murah rejeki (tio pancarian dohot pangomoan).
Tetapi sekarang ihan sudah sangat sulit didapat, dan jenis ikan mas sudah biasa digunakan. Ikan Masa ini dimasak khasa Batak yang disebut “naniarsik” ikan yang dimasak (direbus) dengan bumbu tertentu sampai airnya berkurang pada kadar tertentu dan bumbunya sudah meresap kedalam daging ikan itu.
Bahasa adat yang biasa disebutkan ketika menyerahkan ikan ini adalah:
E MAKAN BERSAMA
Sebelum bersantap makan, terlebih dahulu berdoa dari suhut Pria (SP) , karena pada dasarnya SP yang membawa makanan itu walaupun acara adatnya di tempat SW.
Untuk kata pengantar makan, PRP menyampaikan satu uppasa (ungkapan adat) dalam bahasa Batak seperti waktu menyerahakan tanda makanan adat:
Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna
Tung, sosadiape napinatupa on, sai godangma pinasuna.
Ungkapan ini menggambarkan kerendahan hati yang memebawa makanan (Batubara), dengan mengatakan walaupun makanan yang dihidangkan tidak seberapa (pada hal hewan yang diptong yang menjadi santapan adalah hewan lembu atau kerbau yang utuh), tetapi mengharapkan agar semua dapat menikmatinya serta membawa berkat.
Kemudian PRP mempersilakan bersantap
F MEMBAGI JAMBAR/TANDA MAKANAN ADAT
Biasanya sebelum jambar dibagi, terlebih dahulu dirundingkan bagian-bagian mana yang diberikan SW kepada SP. Tetapi, yang dianut dalam acara adat yaitu Solup Batam, yang disebut dengan “JAMBAR MANGIHUT”dimana jambar sudah dibicarakan sebelumnya dan dalam acara adatnya (unjuk) SW tinggal memberikan bagian jambar untuk SP sebagai ulu ni dengke mulak. Selanjutnya masing masing suhut membagikannya kepada masing-masing fungsi dari pihaknya masing-masing saat makan sampai selesai dibagikan
G MANAJALO TUMPAK (SUMBANGAN TANDA KASIH)
Arti harafiah tumpak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi melihat keberadaan masing-masing dalam acara adat mungkin istilah yang lebih tepat adalah tanda kasih. Yang memberikan tumpak adalah undangan SUHUT PRIA, yang diantarkan ketempat SUHUT duduk dengan memasukkannya dalam baskom yang disediakan/ ditempatkan dihadapan SUHUT, sambil menyalami pengenten dan SUHUT.
Setelah selesai santap makan, PRP meminta ijin kepada PRW agar mereke diberi waktu untuk menerima para undangan mereka untuk mengantarkan tumpak (tanda kasih)
Setelah PRW mempersilakan, PRP menyampai kan kepada dongan tubu, boru/bere dan undangannya bahwa SP sudah siap menerima kedatangan mereka untuk mengantar tumpak.
Setelah selesai PRP mengucapkan terima kasih atas pemberian tanda kasih dari para undangannya
H ACARA PERCAKAPAN ADAT.
I. MEMPERSIAPKAN PERCAKAPAN:
1. RPW menanyakan Batubara apakah sudah siap memulai percakapan, yang dijawab oleh SP, mereka sudah siap
2. Masing-masing PRW dan PRP menyampaikan kepada pihaknya dan hula-hula serta tulangnya bahwa percakapan adat akan dimulai, dan memohon kepada hula-hulanya agar berkenan memberi nasehat kepada mereka dalam percakapan adat nanti
III. MEMULAI PERCAKAPAN (PINGGAN PANUNGKUNAN) .
Pinggan Panungkunan, adalah piring yang didalamnya ada beras, sirih, sepotong daging (tanggo-tanggo) dan uang 4 lembar. Piring dengan isinya ini adalah sarana dan simbol untuk memulai percakapan adat.
1. PRP meminta seorang borunya mengantar Pinggan Panungkunan itu kepada PRW
2. PRW, menyampaikan telah menerima Pinggan Panungkunan dengan menjelaskan apa arti semua isi yang ada dalam beras itu. Kemudian PRW mengambil 3 lembar uang itu, dan kemudian meminta salah seorang borunya untuk mengantar piring itu kembali kepada PRP
3. PRW membuka percakapan dengan memulainya dengan penjelasan makna dari tiap isi pinggan panungkunan (beras, sirih, daging dan uang), kemudian menanyakan kepada Batubara makna tanda dan makanan adat yang sudah dibawa dan dihidangkan oleh pihak Batubara.
4. Akhir dari pembukaan percakapan ini, keluarga Batubara mengatakan bahwa makanan dan minuman pertanda pengucapan syukur karena berada dalam keadaan sehat, dan tujuan Batubara adalah menyerahkan kekurangan sinamot , dilanjutkan adat yang terkait dengan pernikahan anak mereka
IV. PENYERAHAN PANGGOHI/KEKURANGAN SINAMOT
1. Dalam percakapan selanjutnya, setelah PRW meminta PRP menguraikan apa/berapa yang mau mereka serahkan , PRP memberi tahukan kekurangan sinamot yang akan mereka serahkan adalah sebsar Rp…Juta, menggenapi seluruh sinamot Rp….Juta. (Pada waktu acara Pudun Saut, Batubara sudah menyerahkan Rp 15 juta sebagai bohi sinamot (mendahulukan sebagian penyerahan sinamot di acara adat na gok).
2. Sebelum PR TOBING mengiakan lebih dulu RP TOBING meminta nasehat dari Hula-hula dan pendapat dari boru Tobing
3. Sesudah diiakan oleh PR TOBING, selanjutnya penyerahan kekurangan sinamot kepada suhut Tobing oleh Batubara.
V. Penyerahan Panandaion.
Tujuan acara ini memperkenalkan keluarga pihak perempuan agar keluarga pihak pria mengenal siapa saja kerabat pihak perempuan sambil memberikan uang kepada yang bersangkutan
Secara simbolis, yang diberikan langsung hanya kepada 4 orang saja, yang disebut dengan patodoan atau “suhi ampang na opat” ( 4 kaki dudukan/pemikul bakul) yang merupakan symbol pilar jadinya acara adat itu. Dengan demikian biarpun hanya yang empat itu yang dikenal/menerima langsung, sudah mewakili menerima semuanya. (Mungkin dapat dianalogikan dengan pemberian tanda penghargaan massal kepada pegawai PNS yang diwakili 4 orang, masing-masing 1 orang dari tiap golngan I sampai golongan IV).
Kepada yang lain diberikan dalam satu envelope saja yang nanti akan dibagikan Tobing kepada yang bersangkutan.
V Penyerahan tintin marangkup.
Diberikan kepada tulang /paman penganten pria (saudara laki ibu penganten pria). Yang menyerahkan adalah orang tua penganten perempuan berupa uang dari bagian sinamot itu
Seacara tradisi penganten pria mengambil boru tulangnya untuk isterinya, sehingga yang menerima sinamot seharusnya tulangnya
Dengan diterimanya sebagian sinamot itu oleh Tulang Pengenten Pria yang disebut titin marangkup, maka Tulang Pria mengaku penganten wanita, isteri ponakannya ini, sudah dianggapnya sebagai boru/putrinya sendiri walaupun itu boru dari marga lain.
VI. Penyerahan/Pemberia n Ulos oleh Pihak Perempuan.
Dalam Adat Batak tradisi lama atau religi lama, ulos merupakan sarana penting bagi hula-hula, untuk menyatakan atau menyalurkan sahala atau berkatnya kepada borunya, disamping ikan, beras dan kata-kata berkat. Pada waktu pembuatannya ulos dianggap sudah mempunyai “kuasa”. Karena itu, pemberian ulos, baik yang memberi maupun yang menerimanya tidak sembarang orang , harus mempunyai alur tertentu, antara lain adalah dari Hula-hula kepada borunya, orang tua kepada anank-anaknya. Dengan pemahaman iman yang dianut sekarang, ulos tidak mempunyai nilai magis lagi sehingga ia sebagai simbol dalam pelaksaan acara adat.
Ujung dari ulos selalu banyak rambunya sehingga disebut “ulos siganjang/sigodang rambu”(Rambu, benang di ujung ulos yang dibiarkan terurai)
Pemberian Ulos sesuai maknanya adalah sebagai berikut:
Ulos Namarhadohoan
No Uraian Yang Menerima Keterangan
A Kepada Paranak
1 Pasamot/Pansamot Orang tua pengenten pria
2 Hela Pengenten
B Partodoan/Suhi Ampang Naopat
1 Pamarai Kakak/Adek dari ayah pengenten pria
2 Simanggokkon Kakak/Adek dari pengenten pria
3 Namborunya Saudra perempuan dari ayah pengenten pria
4 Sihunti Ampang Kakak/Adek perempuan dari pengenten pria
Ulos Kepada Pengenten
No Uraian Yang Mangulosi Keterangan
A Dari Parboru/Partodoan
1 Pamarai 1 lembar, wajib Kakak/Adek dari ayah pengenten wanita
2 Simandokkon Kakak/Adek laki-laki dari pengenten wanita
3 Namborunya (Parorot) Iboto dari ayah pengenten wanita
4 Pariban Kakak/Adek dari pengenten wanita
B Hula-hula dan Tulang Parboru
1 Hula-hula 1 lembar, wajib
2 Tulang 1 lembar, wajib
3 Bona Tulang 1 lembar, wajib
4 Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib
C Hula-hula dan Tulang Paranak
1 Hula-hula 1 lembar, wajib
2 Tulang 1 lembar, wajib
3 Bona Tulang 1 lembar, wajib
4 Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib
Catatan:
1. Hula-hula namarhahamaranggi dohot hula-hula anak manjae ndang ingkon ulos tanda holong nasida boi ma nian bentuk hepeng, songon na pinatorang. Songoni angka na asing na marholong ni roha.
2. Keruwetan yang terjadi karena undangan pihak permpuan merasa uloslah yang mejadi tanda holong/tanda kasih sehingga harus mengulosi, pada hal sesuai pemahamn pemebri ulos yang tidak sembarangan, ulos yang diberikan itu artinya sam dengan kado/tanda kasih bentuk lain baik barang atau uang, tidak ada nilai adat/sakralnya lagi
VII. Mangujungi Ulaon (Menyimpulkan Acara Adat)
1. Manggabei (kata-kata doa dan restu) dari pihak SW
Berupa kata-kata pengucapan syukur kepada Tuhan bahwa acara adat sudah terselenggara dengan baik:
a. Ucapan terima kasih kepada dongan tubu dan hula-hulanya
b. Permintaan kepada Tuhan agar rumah tangga yang baru diberkati demikian juga orang tua pengenten dan saudara Batubara yang lainnya
2. Mangampu (ucapan terima kasih) dari pihak SP
Ucapan terima kasih kepada semua pihak baik kepada hula-hula SW maupun kepada SP atas terselenggaranya acara adat nagok ini.
CATATAN:
Dalam marhata gabe-gabe dan mangampu, RP masing-masing biasanya memberi kesempatan kepada Hula-hula dan boru/ber masing-masing turut menyampaikan beberapa kata sesuai fungsinya baru SUHUT sebagai penutup.
Disini tidak pada tempatnya memberi nasehat kepada pengenten panjang lebar, tetapi senentiasa permintaan kepada Tuhan agar rumah tangga yang baru itu menjadi rumahtangga yang diberkati.
3. Mangolopkon (Mengamenkan) oleh Tua-tua/yang dituakan di Kampung itu
Kedu suhut Tobing dan Batubara, menyediakan piring yang diisi beras dan uang ( biasanya ratusan lembar pecahan Rp1.000 yang baru) kemudian diserahkan kepada Rja Huta yang mau mangolopkon Raja Huta berdiri sambil mengangkat piring yang berisi beras dan uang olop-olop itu. Dengan terlebih dahulu menyampaikan kata-kata ucapan Puji Syukur kepada Tuhan Karen kasih-Nya cara adat rampung dalam suasan dami (sonang so haribo-riboan) serta restu dan harapan kemudian diahiri , dengan mengucapkan : olop olop, olop olop, olop olop sambil menabur kan beras keatas dan kemudian membagikan uang olop-olop itu.
4. Ditutup dengan doa / ucapan syukur
Akhirnya acara adat ditutup dengan doa oleh Hamba Tuhan.
Sesudah amin, sam-sam mengucapkan: horas ! horas ! horas !
5. Bersalaman untuk pulang,, suhut na niambangan Batubara menyalami Suhut Tobing
BAGIAN III PASKA PERNIKAHAN
Ada tradisi lama (tidak semua melakukannya) setelah acara adat nagok , ada lagi acara yang disebut paulak une/mebat dan maningkir tangga.
Acara ini dilakukan setelah penganten menjalani kehidupan sebagai suami isteri biasanya sesudah 7-14 hari (sesudah robo-roboan) yang sebenarnya tidak wajib lagi dan tidak ada kaitannya dengan acara keabsahan perkawinan adat na gok. Acara dimaksud adalah:
I. Paulak Une
Suami isteri dan utusan pihak pria dengan muda mudi (panaruhon) mengunjungi rumah mertu/orang tuanya dengan membawa lampet ( lampet dari tepung beras dibungkus 2 daun bersilang). Menurut tradisi jika pihak pria tidak berkenan dengan pernikahan itu (karena perilaku) atau sang wanita bukan boru ni raja lagi, si perempuan bisa ditinggalkan di rumah orang tua perempuan itu
II. Maningkir Tangga. (Arti harafiah “Menilik Tangga)
Pihak orang tua perempuan menjenguk rumah (tangga anaknya) yang biasanya masih satu rumah dengan orang tuanya.
CATATAN:
Sekarang ini ada yang melaksanakan acara paulak une dan maningkir tangga langsung setelah acara adat ditempat acara adat dilakukan, yang mereka namakan “Ulaon Sadari” . Acara ini sangat keliru, karena disamping tidak ada maknanya seperti dijelaskan diatas, tetapi juga menambah waktu dan biaya ( ikan & lampet dan makanan namargoar) dan terkesan main-main/ melecehkan makna adat itu.
Karena itu diharapkan acara seperti ini jangan diadakan lagi dengan alasan:
1. Dari pemahaman iman, rumah tangga yang sudah diberkati tidak bisa bercerai lagi dengan alasan yang disebut dalam pengertian Paulak Une, dan pemahaman adat itu dilakukan setelah penganten mengalami kehidupan sebagai suami isteri.
2. Terkesan main-main, hanya tukar menukar tandok berisi makananan , sementara tempat Paulak Une dan Maningkir Tangga yang seharusnya di rumah kedua belah pihak. Artinya saling mengunjungi rumah satu sama lain, diadakan di gedung pertemuan , pura-pura saling mengunjungi, yang tidak sesuai dengan makna dan arti paulak une dan maningkir tangga itu.
3. Menghemat waktu dan biaya, tidak perlu lagi harus menyediakan makanan namargoar (paranak) dan dengke dengan lampetnya (parboru)
4. Acara itu tidak harus diadakan dan tidak ada hubungannya dengan keabsahan acara adat nagok perkawinan saat ini.
5. Acara Paulak Une dan Maningkir Tangga diadakan atau tidak, diserahkan saja kepada kedua SUHUT karena acara ini adalah acara pribadi mereka, biarlah merek mengatur sendiri kapan mereka saling mengunjungi rumah.
Pemberian Ulos sesuai maknanya adalah sebagai berikut: Ulos Namarhadohoan
www.ladangtuhan.com
Kekerabatan Dalihan Natolu Suku Batak
Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.
Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).
2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.
Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.
Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.
(source: hp://www.bonapasogit.tv , sumber lainnya)
From http://tarombo.net
http://sirajasonang.wordpress.com/2008/02/16/apa-pengertian-dalihan-natolu/



